Lebaran di Perantauan 

Lebaran Idul Adha kali ini agak berbeda cerita dengan sebelum-belumnya..  Begitu juga Ulang Tahun di umur yang baru kali ini..

Lebaran dan ulang tahunnya kali ini mendapatkan kesempatan di luar Negara..  Sebenarnya kalau jauh dari rumah untuk lebaran sudah biasa saja..  Apalagi untuk Lebaran Idul Adha… Namun,  apa yang membuatnya menjadi luar biasa kali ini bukan karena di luar Indonesia karena pergi nya juga bukan ke Korea,  Paris, Australia atau negara- negara yang “kebanyakan orang dianggap keren”.  Sekarang berada di Kampung Thom ( Provinsi dari Kamboja). Kampung disini sebenarnya sangat kampung..  Lebih kampung dari kampung saya.  Seperti berada jauh 20 tahun yang lalu. Jalannya sangat jelek. Jeleknya bukan jalannya belum diaspal, karena kalau hanya belum diaspal itu biasa..  Ini selain  belum diaspal juga masih jalan tanah merah ditambah plus nya disini adalah banyaknya “ranjau sapi”  dimana-mana.. Rumah disini pun rumah panggung,  dibawahnya juga adalah sapi.. Jadi dengan kata lain “satu atap”  dengan sapi… Aroma sapinya juga menyebar kemana-mana. Masih biasa kah? Banyak kubangan di jalan dan juga perkarangan rumah. Ditambah listrik yang terbatas,  rumah panggung kayu seadanya, kamar mandi banyak lubang dan untuk BAB harus ke Mushalla.  Seperti pergi KKN katanya?  Seperti team Indonesia Mengajar mungkin?  Atau menjadi guru di daerah Terpencil, Terpinggir,?  Hmm.. Gak tahu la..  Beda – beda rasa la mungkin..  

Apa yang menjadikannya istimewa,  ntah kenapa kali ini ada rasa haru yang timbul..  Aah,  mungkin memang selama ini saya kurang merasa bersyukur… Gak ada kesempatan untuk merenung.. Disini seperti ada banyak waktu ataupun moment sehingga bisa muhasabah diri ini..  Melihat mereka menyalami kami, menyambut kita dan cara mereka melihat kami,.  Ada kesan yang bercampur aduk.. Kesan mereka berbahagia dengan adanya kita disana ataupun kesan mereka juga iba dengan kami karena jauh-jauh lebaran  disini..  Anggap saja begitu..  

Oops,  ternyata baru menyadari bahwa belum mendengarkan ceramah..  *krikmoment Haha..  Dipikirnya tadi sudah berdoa itulah sudah selesai.. Lagian jemaah perempuan nya juga udah pada berdiri karna beda ruang dan tempat dengan imam salat. Kami balek lagi duduk,  mendengarkan ceramah yang tidak tahu apa artinya..  Haha..  Sambil berbuka puasa dengan biscuit yang dibawa dari Malaysia… Dan tiba tiba pembahasan jadi ke lontong,  rendang dll… Hahaha.. Selesai. 

Memenuhi undangan dari pak Hakim atau Pak Kecik,  atau pak Wali atau pak kepala kampung ke rumahnya untuk jamuan lebaran..  Tapi jangan membayangkan makan nasi,  lontong dll..  Tersedia disana adalah kue bolu ( seperti bolu ikan di aceh tapi ini bulan)  dan teh Cambodja..  

Masih lapar,  pergi ke kedai yang dianggap cukup besar disana..  Pesan  makanan yang ada cuma mie goreng..  Okay..  Makan dan seorang teman berkata seperti rasanya sama mie nya dengan di Indonesia… Selesai makan,  melihat dari kejauhan ternyata memang ada kardus Indomie goreng disana..  Hahaha..  Luar biasa..  Jauh-jauh ke Kampung Thom jumpa Indomie.. Langsung terbayang iklan Indomie… Pelajar Indonesia yang di Eropa ( lupa tepatnya)  jauh jauh ke Belanda untuk beli Indomie… Kemudian beli Indomie 5 bungkus dengan harga yang hampir sama kurang lebih 3.000 an karena berfikir nanti bisa dimasak sendiri dan makan mentah juga Okay * anak kos 😅😅😅

Barulah,  acara qurban dikerjakan.. Untuk di kampung ini ada 12 sapi yang akan disembelih. 2 dari Indonesia..,masih sedikit sebenarnya karena kampung ini walaupun banyak ternak sapi mereka memakai sapinya untuk bekerja,  untuk ke sawah dan alat transportasi.. Jadi bayangkan saja, jalan becek dari tabah liat ditambah banyaknya ranjau sapi dimana-mana..  Dan ada bagian beceknya itu sudah menjadi kubangan.. Sehingga mau lewat harus buka perkarangan orang..  Baju lebaran princess pun binggung mau jalan ke mesjidnya gimana 😂😂😂

Kalau waktu di Selatan Thailand,  bertemu tentara dimana-mana itu merupakan hal yang harus dibiasakan..  Ditata jiwa agar merasa biasa saja… Kalau disini ikut ke lapangan qurban itu merupakan hal yang harus dikuat-kuatkan.. Walaupun ikut untuk kali ini saya tidak berkontribusi karena sadar diri,  jangan sampai saya pingsan dan orang menjadi heboh ataupun repot karena saya. Setiap orang punya kemampuan masing – masing dan mengenali kemampuan ini menuruku diperlukan saat pergi-pergi jadi volunteer..  

 Masuk kedalam ruangan saja dan tiba-tiba banyak anak-anak yang masuk… Binggung mau ngapain,  melihat batu yang mereka bawa..  Akhirnya main batu saja lah… Akhirnya qurban selesai, balek ke rumah Mak Long.  Istirahat dan makan untuk bersiap-siap ke Kampung Cham. Berpisah dengan orang – orang disana sebenarnya sangat membuat sedih.. Membayangkan service luar biasa yang diberikan warga disini… Kalau sebagai assesor,  sudah dapat nilai 5 ini untuk service orientation yang mereka miliki.. Keren sangat..  :):)

Saat jalan,   Tiba-tiba seorang nenek mengangkat cardigan panjang saya yang kena tanah.  Menyambut kami saat datang, ibarat pejabat yang datang, menjaga dll..  Mungkin berfikir biasa.. Tapi ini luar biasa..,  banyak yang mereka berikan itu adalah saat mereka juga sebenarnya bukan orang yang mampu… Perhatian,  keramahan walaupun bahasa yang satu berbeda dengan yang lain tapi setidaknya saling memahami apalagi senyum dan ucapan Assalamualaikum adalah bahasa yang universal. 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s