Mejuah Juah

Salam semua, Mejuah-juah

Kali ini saya ada misi untuk senyuman anak-anak pengungsi Sinabung. Tapi sayang kali ini saya tidak bisa bergabung padahal saya sudah rindu juga untuk kesana. Namun, karena suatu dan banyak hal dengan berat hati tidak bisa ikut untuk misi kali ini. So, sebagai pelepas sedikit rindu saya akan coba menulis kenangan semasa disana. Misi ini digagas oleh Road to Jannah (Malaysia) yang insha Allah akan bekerjasama dengan ACT Medan (Indonesia).

Gunung Sinabung terletak di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (perjalanan dari Medan sekitar 2-3 Jam). Namun, dari kota wisata Berastagi kita sudah bisa melihat viewnya. Gunung ini sebenarnya sudah lama tidak erupsi namun di bulan puasa 2010 gunung ini kembali erupsi setelah tidur panjangnya. Jika kesana, dahulunya seperti kita di ladang games Farm Ville banyak perkebunan kentang, wortel, jeruk Medan yang sebenarnya dari sana dan juga sayuran lainnya. Tidak lupa kebun bunga yang indah-indah bisa dijumpai disana. Dampak erupsi ini tentunya membuat masyarakat terpaksa harus mengungsi dan berlebaran di pengungsian.

September 2013, gunung Sinabung ini kembali aktif sehingga warga di area 3-5 km harus diungsikan di posko pengungsian. Saat pertama kali kesana dibuatlah posko pengungsian yang hanya 4 buah posko karena jumlah pengungsi memang tidak terlalu banyak sesuai dengan radius yang diungsikan. Posko di buat di masjid, gereja, jambur (balai pertemuan) dan pasar. Sepanjang 2013 aktifitas gunung naik turun terkadang erupsi terkadang mulai aman dan bisa kembali lagi ke rumah masing-masing walaupun untuk warga yang berjarak 3 km itu masih harus waspada. Begitu juga dengan tahun 2014 bahkan ada korban jiwa saat pengantar bantuan mencoba melintasi redzone dan tanpa disangka terjadi erupsi hebat. Sepanjang 2014 bahkan sekarang 2016 juga masih terus bergojak. Bahkan di tahun 2016 kembali memakan korban karena dampak dari lahar panas yang mengikuti aliran sungai.

Sangat miris sebenarnya kondisi disana, gak usahlah kita bahas pemerintahan dan politik bagi saya yang dhaif ini susah juga untuk menjelakannya. Bagi saya yang membuat sedih adalah kenapa Sang Gunung ini tidak berhenti-henti batuk. Cukup berbeda jika kita perhatikan dengan gunung api lainnya yang erupsi. Biasanya saat sudah terjadi erupsi besar, warga mengungsi untuk sekian waktu dan sesudah itu mereka bisa kembali kerumahnya untuk berbenah. Beda dengan Sinabung seolah-olah baru tersenyum sudah harus bersedih lagi. Semoga ada rahasia indah Allah sesudah ini. Begitu setiap hari tanpa tahu siapa yang bisa memastikan. Ilmu mana yang bisa menghentikannya. Tidak terkira berapa kerugian material berupa rumah, ladang, sekolah dan bangunan lainnya. Begitu juga secara psikologis pastinya… teringat dulu kata nandeh nande (nenek-nenek) disana, “dulu berfikir jika tidak pergi ke ladang rasa enak, tapi ternyata disini di posko tidak ada kerjaan tidak ada kegiatan tidak bisa ke ladang sungguh sangat tidak enak. Rasanya biarlah bisa pergi ke ladang dapat sedikit demi sedikit untuk aktifitas dibandingkan disini walaupun ada yang bantu”. Belum lagi anak-anak disana, hmm…. speechless. Yang dulu saya lihat, semoga hari ini lebih baik.. anak-anak yang baru lahir, anak SD mereka harus tinggal di posko pengungsian yang tidak semua memberikan kenyamanan. Jika pun nyaman tentu mereka akan lebih senang jika dapat tinggal di rumah mereka sendiri walaupun sederhana. Namun, secara psikologis anak-anak saat berhadapan dengan bencana memang menjadi dua kutub. Satu, mereka akan merasakan sedih yang mendalam sehingga menarik diri, sulit makan, sulit tidur, tidak mau bermain, prestasi menurun dan lainnya. Di lain sisi, mereka terlihat gembira bermain di pengungsian karena ramai, banyak teman dan kakak –kakak yang menghibur, tapi pertanyaannya sampai kapan? Tentunya hal ini tidak kekal, karena dunia mereka sebenarnya bukan disana. Hanya mampu mendoakan dari jauh.

Tentunya yang membuat semakin miris, saat banyak orang tidak tahu… jangankan  untuk dunia tahu… satu Indonesia saja tidak semua tahu, jangankan Indonesia, satu Sumatera pun masih gak tahu dimana letak Sinabung, Jangankan Sumatera satu Sumatera Utara pun terkadang lupa ada saudara saudara disana… Okay jangankan satu Sumatera Utara, Satu Medan pun kadang menyadari adanya bencana erupsi Sinabung dari tomat atau jeruk yang terkena abu saat belanja di pasar. Semoga dulu yang seperti itu, berharap sekarang jauh lebih baik. Karena memang tulisan ini lebih kepada 2-3 tahun yang lalu.

Mejuah-juah…. !!!

karena hidup harus tetap diperjuangkan, bersama-sama atau sendiri

Salam rindu dari kota Padang,

berharap kita dapat berjumpa lagi dengan segala kebaikan

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s