Maninjau berduka (lagi)

Maninjau…

tempat yg dulu kubenci…

tinggal di Maninjau sama dengan tinggal di dusun, bahkan melebihi dari tinggal di kampung…

tentu sangat berbeda dengan tinggal di kota kelahiranku…

bahkan sangat “banting” bedanya… jauuuh….

 

harus pindah ke Maninjau ibarat sedang memegang gelas yg tiba-tiba jatuh pecah berantakan..

hancur semua rencana-rencanaku…

ilang semua teman-temanku….

“masak aku harus tinggal di kampung ??? ” kalimat pertama yg terlintas…

 

Tapi…, itu dulu…

tinggal di Maninjau setelah sekian lama kurasakan ibarat anugerah…

Maninjau dengan pemandangan indahnya…

Maninjau dengan HAMKA, Buya Haji Ahmad Rasyid Sutan Mansur, Rasuna Said, Nur Sutan Iskandar, A. Fuadi… dan bahkan Moh, Natsir pernah tinggal disitu….

Maninjau dengan legenda Bujang Sambilannya….

Maninjau dengan ikan-ikannya : rinuah, barau, bada masiak, asang, pensi,…

Maninjau dengan duriannya…

Maninjau dengan dinginnya…

Maninjau dengan sepinya…

Maninjau dulu dengan jalan rusaknya…

dan ternyata sekarang ada anugerah aku bisa tinggal di Maninjau…

 

walaupun kata orang tempatnya sulit dijangkau…

tempatnya sunyi…

tempatnya gelap….

tempatnya mengerikan…

jalannya masih banyak lubang…

sering longsor…

daerah merah, rawan bencana…

jika turun hujan, semua pada cemas…

dan mungkin itu memang benar…

 

seperti hari ini…

saat seorang teman bertanya “katanya maninjau longsor parah, ada yang meninggal (lagi)..

langsung menghubungi mama dan papa…

berkali-kali gak nyambung dan gak diangkat….

jantung berdegup makin kencang….

mencari berita… dan melihat foto…

semakin berdegup kencang…

fiiuuuh…., akhirnya setelah ditelepon papa yg menyatakan bahwa longsornya di kampung lain agak sedikit lega,.. walaupun memang akan selalu cemas karena selalu  diteror longsor di Maninjau…

 

Kalau Presiden Soekarno pernah bilang : 

jika adik makan pinang…

makanlah dengan sirih hijau,

jika adik datang ke Minang…

jangan lupa singgah ke Maninjau…

(tulisan di Museum Buya Hamka)

pantun lain ttg Maninjau yg terkenal (minimal bagiku)

Maninjau padi lah masak

batang kapeh batimba jalan…

Hati risau dibawo galak., 

bak paneh manganduang hujan..

dan bagaimanapun Maninjau dengan segala dinamikanya…

Maninjau bagiku masih seperti bunga Mawar…

untuak mandapek nan rancak memang agak payah”

 

Basakik-sakik dahulu basanang-sanang kemudian….

terpampang jelas di dinding batu PLTA Maninjau…

Bagiku itu ibarat gerbang saat akan merantau…

dilepas dengan semangat oleh kalimat tersebut…

semangat untuk mengukir sejarah, seperti tokoh-tokoh sebelumnya…

 

 

Image

 

Akhirnya…., ku akui juga.. “aku sekarang sudah jatuh cinta denganmu, Maninjau” 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s