apakah anak harus “selalu sesuai” dengan keinginan orangtuanya ??

Mau sedikit sharing , pelajaran, pengetahuan, apa yang didengar selama kuliah psikopatologi anak…,karena seperti yang tadi dibilang memang agak2 menjadi sesuatu yang berkesan…

Hmm..sangat terkesan dengan apa yang diceritakan dosen-dosenku yang sebenarnya memang iya kuliat dan kutemui fenomenanya ….

1. Harapan orang tua yang terlalu tinggi terhadap anaknya…

            Terkadang orang tua zaman sekarang atau bahkan zaman dahulu sangat mengharapkan anaknya untuk pintar (dan jujur sebenarnya aku juga kalo punya anak ingin anak yang pintar,hehe) namun terkadang kita lupa dengan istilah pemberian…, dalam contoh kapasitas IQ… kita seharusnya menyadari bahwa yang namanya kapasitas itu ibarat gelas yang telah diberikan oleh Allah., ada gelas yang berukuran kecil sekali, kecil, sedang, besar, dan sangat besar. Jadi, sebenarnya tugas orang tua adalah hanya memaksimalkan isi dari gelas tersebut, terkadang gelas yang sangat besarpun kalo diisi hanya sedikit akan terlihat hasilnya sama dengan gelas yang biasa saja.

          Isilah gelas sesuai dengan kapasitasnya.., buat apa dipaksakan karena kalo terlalu banyak air yang kita isi kedalam gelas tsb tentu airnya akan tumpah juga. Percuma… Hanya membuat kita capek dan juga seolah-olah tidak ada kerjaan untuk mengisi air melebihi kapasitasnya.

2. Mengapa anak zaman sekarang banyak mengalami gangguan bahasa.?

          Anak zaman sekarang yaa..,anak zaman sekarang yang kali ini bisa berbeda dengan anak zaman dulu. Terkadang bisa dilihat banyak anak zaman sekarang yang mengalami gangguan bahasa. Malas ngomong, tidak lancar berbahasa, terlambat dalam perkembangan bahasanya. Gangguan ini bisa menyerang anak dari golongan mana saja, bawah ataupun atas. Namun, kalo dia sudah bisa datang ke psikolog anak tentunya bisa kita berasumsi bahwa dia datang dari golongan atas.

      Hmmm..,  terkadang memang anak berasal dari kedua orang tua yang berpendidikan tinggi, namun sebenarnya  yang menjadi figur pengasuh anak zaman sekarang ini sudah jarang orang tua khususnya ibu si anak. Anak diserahkan diasuh dengan bantuan baby sitter atau pengasuh bayi yang malah mempunyai waktu yang lebih lama dengan si anak. Namun, tentunya kita tahu sampai sejauh manalah pendidikan dari mereka, tidak bermaksud merendahkan. Apa yang biasa kita lihat ??? Biasanya “kebanyakan baby sitter itu mau anaknya diam, tidak rewel, bahkan kalau bisa tidak banyak tanya. Mereka seolah-olah mengasuh anak hanya menyelesaikan tugasnya, apa yang bisa dilihat seperti: anak sudah makan atau sudah mandi dan ketika Ibu pulang anak sudah tidur tanpa banyak berinteraksi dengan anak..jarang-jarang kan kita lihat baby sitter yang mau ngajak anak berbicara pada usia anak sekitar 2 tahunan. Mereka menghidupkan TV supaya anak bisa tenang dan sementara mereka asyik SMS an, walaupun tidak semua. Jadi sangat diperlukan kepandaian Ibu untuk memberikan stimulus bahasa kepada anak di sela-sela  waktu-waktu ibu yang terbatas. Bukankah kata-kata ibu yang bekerja: Quality time is better than Quantity time.. So, We Must Proved It….(^_^)/

3. Abused Anak dalam bentuk lain..

        Abused alias penyiksaan anak zaman sekarang dalam bentuk lain…Hmmm….gak tau juga seh apakah zaman dahulu kayak gini juga atau anak  yang umumnya dari keluarga biasa2 aja mengalami ini atau tidak?? Namun, aku pribadi seh kayaknya tidak terlalu…Paling memang zaman dahulu abuse yang diberikan orang tua masih sebatas fisik, cubit..,tali pinggang (dipukul gak pernah seh tapi sama guru dulu paling dipukul pake jalinan lidi atau pernah juga pake penggaris panjang kayu…dan perasaanku seh, gak ada tuh trauma-traumanya…, selagi masih batas wajar x atau memang batasan kita yang jelas salah. Tidak sama dengan anak zaman sekarang yang dikerasi dikit sama guru langsung Ortunya datang ke sekolah mendatangi gurunya atau anak yang istilahnya tidak pernah kena tanggan selama di rumah. Jadi pernah liat tuh,,anak-anak yang kalo makan di mall yang nakal atau melawan, biasanya anak zaman sekarang cuma dibilangin sama orang tuanya “Jangan..” Just It.. N apakah anak berhenti melakukannya??? gak kan..Terkadang kunilai terlalu lemah. Iya gak seh ??? Sebenarnya memang dalam dunia psikologi punishment itu harus dihindari diganti dengan reinforcement yang negatif. Tapi tidak semua orang tau, gimana caranya.. dan jujur juga aku masih masih belum terlalu mengerti namun bukan berarti juga aku menjadi pendukung punishment, sebenarnya kan memang gak harus harus hukuman fisik namun ya hukuman itu adalah punishment.

        Orang tua zaman sekarang memang sudah jarang menggunakan kekerasan atau abused terhadap anak.  Seolah-olah… kenapa seolah-olah karena secara kasat mata memang tidak ada lagi  orang tua yang memukul rotan namun tanpa disadari mereka menukar cara untuk mengabused anak. Bayangkan…, anak SD zaman sekarang yang sekolah dari jam 08.00-17.00 dengan membawa tas yang sangat berat walaupun kebanyakan diantar. Selesai sekolah makan dan ganti baju di mobil pergi les bahasa Inggris, Piano, Mandarin, Sempoa, dll biasanya sampai jam 19.00. Pulang ke rumah, mandi, makan, datang guru les pelajaranya sampai pukul 21.00. Kemudian baru lah anak tidur untuk bangun lagi esoknya jam 07.00 pagi. Hmm… bisa dibayangkan?? anak SD waktunya bisa jadi sama padatnya sama anak kuliahan. Ck..ck…ck…

4. Anak harus Bisa bahasa Inggris

        Sebenarnya kalo dipikir-pikir memang orang tua mana seh yang gak ingin anaknya hebat bahasa Inggris, bahkan kalo bisa gak hanya English, Mandarin, Jerman, Korea, Arab, Jepang. Namun, karena obsesi orang tua ini mereka terkadang lupa dengan umur anak. Anak yang masih Balita sudah dicekokin 2 atau 3 bahasa. Hal ini membuat anak menjadi binggung, di rumah bahasanya apa, di sekolah bahasanya lain, dengan baby sitter bahasanya beda. Bener, kata buk dosen: kalo dipikir-pikir kita dahulu belajar bahasa Inggris umur berapa, kelas berapa ?? dan apakah kita jadinya tidak bisa berbahasa inggris?? Memang benar zaman menuntut lebih sekarang tetapi selam kita tinggal di Indonesia tidak akan berubah bahasa Inggris itu menjadi bahasa nasional kita, mungkin iya kalo second languange. Dan yang namanya second berarti yang kedua. Emang seberapa banyak bule yang tinggal di Indonesia, bahkan yang lebih kasiannya lagi anak yang hanya memahami bahasa Indonesia hanya 40%.

    Orang tua terlalu mempersiapkan apa yang akan dihadapi anak padahal itu belum terjadi dengan mengeyampingkan sesuatu yang jelas-jelas yang sudah dihadapi anak dan banyak dihadapi anak sehari-hari. Terkadang yang lebih lucunya anak berbicara dengan bahasa iNggris Ibu menjawab dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa daerah… :p

5. Prinsip orangtua bahwa kalau orang tuanya pernah susah, maka anak tidak boleh merasakan kesusahan juga.

         Ini jelas banyak terjadi pada orang tua zaman sekarang atau bahkan mungkin di saat aku menjadi orang tua di masa yang akan datang (merasa sekarang susah n mudah2an besoknya sukses, hehehe). Sebenarnya memang niat orang tua bagus (kayaknya semua niat orang tua bagus untuk anaknya namun yaa mungkin agak terlalu lebai atau malah santai sekali). Anak tidak diajarkan merasakan kesusahan sendiri dengan menyediakan semua bantuan dan semua fasilitas untuk mempermudah anak. Namun, apa yang terjadi akibatnya bisa kita lihat “kemanjaan anak-anak zaman sekarang” Hmmm…Ckckckc…..

       Hanya satu hal singkat yang perlu dicerna: “terkadang orang tua tidak menyadari bahwa kesuksesan yang ia dapatkan sekarang merupakan hasil perjuangannya dalam menghadapi kesusahan pada zaman mereka masih anak-anak atau masih muda-muda dulu.

6. Perasaanku sekarang anak akan sulit menceritakan pengalaman masa kecilnya saat akan datang.

            Berharap iya ini hanya perasaanku saja.., karena terkadang aku yang bertanya-tanya kalau anak-anak yang hari-harinya hanya diisi dengan belajar dari jam 08.00-21.00. Kalau weekend paling menghabiskan waktu bermain games atau internet atau paling banter pergi sama Mama Papa ke Mall, lebaran ke rumah nenek yang sama kota…

          Kalau saat mereka sudah kuliah disuruh mengarang apa pengalaman masa kecilmu yang menarik atau bagaimana masa kecilmu ?? apa yang akan mereka ceritakan, apa mereka hanya bisa buat daftar list tanpa bisa menceritakan…

Kasihan …Kasihan….yang lebih kasihan lagi ternyata anak bisa juga mengalami depresi seolah-olah beban hidupnya seberat beban tas sekolahnya -_-”

*kuakui blog kali ini terkesan menggurui karena aku sendiri belum mempunyai pengalaman menjadi orang tua…

tapi setidaknya masih ada kata “kita” disini sehingga blog ini juga Note to My Self..

walaupun katanya sehebat apapun kita menjadi psikolog anak terkadang sama anak sendiri suka lupa dengan teori,haha

tapi setidaknya kita tahu bahwa yang sedang-sedang saja itu yang normal , yang bisa dikatakan terbaik…

sehingga apa yang terlalu kita kurangi..yang kurang kita tambahkan

*kutipan ceramah dosen2 Klinis Anak dengan bumbu-bumbu dariku supaya agak sedap  ^.^

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s