Pelajaran pertama dari  Ho Chi Minh City..  

Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Phnom Penh, dengan 6 anggota lagi yang ada dari 12 orang yang ada. Yang lainnya sudah terbang ke Malaysia… Dan yang 6 ini adalah team yang mendapatkan tiket lebih murah jika lewat HCM.  Sehingga dipilihlah jalan darat ke Ho Chi Minh City dahulu barulah ke Kuala Lumpur kemudian ke Indonesia.  Perjalanan trip ini memang mandiri jadi memang harus berpandai pandai untuk menyesuaikan diri.. Namun,  sesuai dengan hastagnya giving and traveling jauhlah amal ini penuh dengan kerjasama baik untuk orang lain atau dalam team sendiri. 

​Uang.., benda satu ini,  malam ini memiliki banyak arti seperti kadang hidup.
Pertama, terkadang banyak  pun uang dollar yang dimiliki (walaupun gak banyak 😅) kalau pihak penjual tidak mau terima, Menjadi sia-sia.
Hidup juga kadang begitu, terkadang apa yang kita rasa baik,  sesuai dan ingin kita berikan kepada orang lain.Namun,  terkadang orang juga tidak mau menerima., menolak sehingga ada masa kita perlu menyesuaikan pendapat atau nasehat yang kita berikan. 

Kedua, menganggap remeh.  Akan bisa begini akan bisa begitu untuk jalan hidup kita ke depan.. Namun,  ternyata banyak hal yang bisa terjadi di depan sana yang tidak sesuai rencana.. Apa yang bisa dilakukan selain berusaha menyelesaikan dengan cepat dan berharap tepat. 

Ketiga,  sudah lah pengalaman pertama semua kesini,  bahasa inggris satu tak gitu paham satu tidak terlalu mahir berbahasa membuat susah mencari money changer sehingga membuat lama dan sesat.. Ya,  terkadang ini lah pentingnya komunikasi dalam hidup ini..

Keempat,  jalan yang dilalui oleh dua orang senior junior yang lucu ini adalah jalan penuh perjuangan.. Kanan kiri bar,  orang bawa minuman keras,  orang asing dengan baju kurang bahan, ditambah pasangan mesra dimana mana.. Kadang perlu juga memang kita harus tetap jalan ke depan tanpa liat kanan kiri,  ngebut, rasa mau pingsan. 

Yang terakhir,  memang don’t judge a book from the cover. Meminta tolong dengan bertanya pada orang yang sebenarnya gak yakin akan bisa menolong tapi akhirnya dengan Google translate bisa. Melihat hotel yang dibawahnya ada angka angka mencoba berfikir. Ini tarif kamar atau penukaran uang.. Coba dan ternyata berhasil. Tanpa berfikir berapa ratenya ditambah dengan muka kalut kamu..  Gak banyak pikir tukar aja terus.. 

Balek ke titik kumpul di K- Circle mendengar Sim card sudah habis.. Ah sudahlah..  Cari taksi dan ada incident kecil hp tinggal namun Alhamdulillah memang rezeki dan masih Allah sayang HP yang tinggal di atas motor pas dilihat masih ada.. 

Menyeletuk lah seorang adek yang dari Aceh.. Untung gak di Medan, kalau di Medan sudah ilang tu..  Haha.. Padahal ini kota sebenarnya lebih parah dari Medan.. Tapi ya setidaknya Allah masih melindungi kami.. 

Datang  ke HCM di waktu malam, dengan tidak ada Dong,  apalagi tanpa sim card.. Sungguh luar biasa.. Menariknya banyak ibrah malam ini.. Pengalaman luar biasa.. Rasa ingin tertawa sendiri, lelah dah pasti,  lapar,  pucat,  semua rasa nano-nano.. 
Besok akan ada pengalaman apalagi ya?Yang pastinya dalam berjalan selalu meminta perlindungan dari Pemilik langit dan bumi ini..

 Doa Musafir. 

Semoga perjalanan ini diberkahi dan semua pada selama pergi dan pulang kembali. 

Lebaran di Perantauan 

Lebaran Idul Adha kali ini agak berbeda cerita dengan sebelum-belumnya..  Begitu juga Ulang Tahun di umur yang baru kali ini..

Lebaran dan ulang tahunnya kali ini mendapatkan kesempatan di luar Negara..  Sebenarnya kalau jauh dari rumah untuk lebaran sudah biasa saja..  Apalagi untuk Lebaran Idul Adha… Namun,  apa yang membuatnya menjadi luar biasa kali ini bukan karena di luar Indonesia karena pergi nya juga bukan ke Korea,  Paris, Australia atau negara- negara yang “kebanyakan orang dianggap keren”.  Sekarang berada di Kampung Thom ( Provinsi dari Kamboja). Kampung disini sebenarnya sangat kampung..  Lebih kampung dari kampung saya.  Seperti berada jauh 20 tahun yang lalu. Jalannya sangat jelek. Jeleknya bukan jalannya belum diaspal, karena kalau hanya belum diaspal itu biasa..  Ini selain  belum diaspal juga masih jalan tanah merah ditambah plus nya disini adalah banyaknya “ranjau sapi”  dimana-mana.. Rumah disini pun rumah panggung,  dibawahnya juga adalah sapi.. Jadi dengan kata lain “satu atap”  dengan sapi… Aroma sapinya juga menyebar kemana-mana. Masih biasa kah? Banyak kubangan di jalan dan juga perkarangan rumah. Ditambah listrik yang terbatas,  rumah panggung kayu seadanya, kamar mandi banyak lubang dan untuk BAB harus ke Mushalla.  Seperti pergi KKN katanya?  Seperti team Indonesia Mengajar mungkin?  Atau menjadi guru di daerah Terpencil, Terpinggir,?  Hmm.. Gak tahu la..  Beda – beda rasa la mungkin..  

Apa yang menjadikannya istimewa,  ntah kenapa kali ini ada rasa haru yang timbul..  Aah,  mungkin memang selama ini saya kurang merasa bersyukur… Gak ada kesempatan untuk merenung.. Disini seperti ada banyak waktu ataupun moment sehingga bisa muhasabah diri ini..  Melihat mereka menyalami kami, menyambut kita dan cara mereka melihat kami,.  Ada kesan yang bercampur aduk.. Kesan mereka berbahagia dengan adanya kita disana ataupun kesan mereka juga iba dengan kami karena jauh-jauh lebaran  disini..  Anggap saja begitu..  

Oops,  ternyata baru menyadari bahwa belum mendengarkan ceramah..  *krikmoment Haha..  Dipikirnya tadi sudah berdoa itulah sudah selesai.. Lagian jemaah perempuan nya juga udah pada berdiri karna beda ruang dan tempat dengan imam salat. Kami balek lagi duduk,  mendengarkan ceramah yang tidak tahu apa artinya..  Haha..  Sambil berbuka puasa dengan biscuit yang dibawa dari Malaysia… Dan tiba tiba pembahasan jadi ke lontong,  rendang dll… Hahaha.. Selesai. 

Memenuhi undangan dari pak Hakim atau Pak Kecik,  atau pak Wali atau pak kepala kampung ke rumahnya untuk jamuan lebaran..  Tapi jangan membayangkan makan nasi,  lontong dll..  Tersedia disana adalah kue bolu ( seperti bolu ikan di aceh tapi ini bulan)  dan teh Cambodja..  

Masih lapar,  pergi ke kedai yang dianggap cukup besar disana..  Pesan  makanan yang ada cuma mie goreng..  Okay..  Makan dan seorang teman berkata seperti rasanya sama mie nya dengan di Indonesia… Selesai makan,  melihat dari kejauhan ternyata memang ada kardus Indomie goreng disana..  Hahaha..  Luar biasa..  Jauh-jauh ke Kampung Thom jumpa Indomie.. Langsung terbayang iklan Indomie… Pelajar Indonesia yang di Eropa ( lupa tepatnya)  jauh jauh ke Belanda untuk beli Indomie… Kemudian beli Indomie 5 bungkus dengan harga yang hampir sama kurang lebih 3.000 an karena berfikir nanti bisa dimasak sendiri dan makan mentah juga Okay * anak kos 😅😅😅

Barulah,  acara qurban dikerjakan.. Untuk di kampung ini ada 12 sapi yang akan disembelih. 2 dari Indonesia..,masih sedikit sebenarnya karena kampung ini walaupun banyak ternak sapi mereka memakai sapinya untuk bekerja,  untuk ke sawah dan alat transportasi.. Jadi bayangkan saja, jalan becek dari tabah liat ditambah banyaknya ranjau sapi dimana-mana..  Dan ada bagian beceknya itu sudah menjadi kubangan.. Sehingga mau lewat harus buka perkarangan orang..  Baju lebaran princess pun binggung mau jalan ke mesjidnya gimana 😂😂😂

Kalau waktu di Selatan Thailand,  bertemu tentara dimana-mana itu merupakan hal yang harus dibiasakan..  Ditata jiwa agar merasa biasa saja… Kalau disini ikut ke lapangan qurban itu merupakan hal yang harus dikuat-kuatkan.. Walaupun ikut untuk kali ini saya tidak berkontribusi karena sadar diri,  jangan sampai saya pingsan dan orang menjadi heboh ataupun repot karena saya. Setiap orang punya kemampuan masing – masing dan mengenali kemampuan ini menuruku diperlukan saat pergi-pergi jadi volunteer..  

 Masuk kedalam ruangan saja dan tiba-tiba banyak anak-anak yang masuk… Binggung mau ngapain,  melihat batu yang mereka bawa..  Akhirnya main batu saja lah… Akhirnya qurban selesai, balek ke rumah Mak Long.  Istirahat dan makan untuk bersiap-siap ke Kampung Cham. Berpisah dengan orang – orang disana sebenarnya sangat membuat sedih.. Membayangkan service luar biasa yang diberikan warga disini… Kalau sebagai assesor,  sudah dapat nilai 5 ini untuk service orientation yang mereka miliki.. Keren sangat..  :):)

Saat jalan,   Tiba-tiba seorang nenek mengangkat cardigan panjang saya yang kena tanah.  Menyambut kami saat datang, ibarat pejabat yang datang, menjaga dll..  Mungkin berfikir biasa.. Tapi ini luar biasa..,  banyak yang mereka berikan itu adalah saat mereka juga sebenarnya bukan orang yang mampu… Perhatian,  keramahan walaupun bahasa yang satu berbeda dengan yang lain tapi setidaknya saling memahami apalagi senyum dan ucapan Assalamualaikum adalah bahasa yang universal. 

Welcome to Siem Reap 

Sampai juga di Siem Reap pukul 08.00 setelah dua jam perjalanan dari kuala Lumpur..  Dengan  Zona Waktu yang ternyata sama dengan WIB. 

Setelah berlari – lari lagi..  Padahal dah spare time haha. Tetap aja kalau gak lari lari ngejar pesawat di KLIA 2..  Hahaha.. 

Sampai di airport tidak begitu banyak pemeriksaan untuk barang bawaan, lepas dari pemeriksaan imigrasi sudah bisa keluar gerbang kedatangan sudah di tunggu dengan van menjemput. 

Keluar dari airport yang tidak begitu besar,  melihat jalannya yang di bagi 4 namun jalan tengah juga dipakai bolak balik..  Haha tak paham juga la… 

Pemandangan nya sebenarnya mirip Thailand Selatan..  Tapi ini nulis baru beberapa menit keluar dari airport seh.. Mencoba ingin menebak nebak apa perbedaannya..  Melihat tulisan yang sama dengan dancing font namun setidaknya disini masih ada latinnya dibawah..  Jadi bisa tahu juga la tempat apa ini..  

Kemudian pergi  makan rangkap sarapan dan lunch ke kedai Muslim.. Rasanya disini kalau rumah makan muslim selain tulisan Halal juga akan dipasang bendera Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapore.  Ntah kenapa,  mungkin kebetulan saja.. Pesan sop Ayam  Cambodia rasanya segar dan enak..  Untuk minum pesan es Kelapa muda dan ini yang failed Haha..  Ternyata yang datang adalah “kelapa menjelang tua” yang tua yang utuh.. Air nya sedikit dan isinya keras. Berbeda dengan harapan dikira yang kelapa muda dalam kelas dengan airnya plus isinya ditambah es… 😂😂😂

Persiapan barang untuk program, pergi ke toko alat tulis..  Membeli kebutuhan paket alat tulis..  Ditemani bg Arifin tentunya..  Cukup lama juga..  Diperhatikan pegawai – pegawai toko disini seperti anak-anak usia SMP.  Masih kecil kurasa tapi sedikit berhias karena pergi bekerja..  Anak laki-laki juga seperti usia SD.  Ntah kenapa.?  Masih sekolah kah atau memang sudah tidak sekolah lagi..  

Perjalanan kemudian dilanjutkan baru ke homestay… Menginap di Malita Angkor Villa..  Ternyata tempatnya dekat tempat makan tadi..  Disini ternyata memang lokasi wisata dan sepertinya dekat dengan Angkor Wat..  

Sesudah istirahat tidur dan salat dilanjutkan kegiatan dengan kegiatan packing paket alat tulis untuk 410 paket.. Tidak begitu lama,  karena team sudah fasih dan expert dalam hal packing ini..  Hehe…. 

Ternyata homestay meminjamkan sepeda secara gratis untuk mengelilingi wilayah ini..  Lanjut lah kami bersepeda sore..  Agak kikuk juga karena disini berjalan atau bersepeda di sebelah kanan.. O iya disini kemudi mobil ada di sebelah kiri… 

Wilayah pasar malam dan pub street ramai dengan bule..  Namun., untuk jalanan daerah sekitar sini ntah kenapa jelek sekali..  Apalagi habis hujan becek dan karena bukan aspal yang mulus tapi aspal rusak dengan tanah liat seperti nya.. Kadang gak abis pikir juga seh..  Kan ini kawasan wisata international namun kenapa jalannya tidak diaspal dengan bagus..  Hanya pada kawasan pub street dan night market aja yang bagus tapi untuk kawasan sekitar jelek.. 

Sesudah itu,  barulah dijemput lagi untuk pergi ke night market sekitar pukul 05.30 pm dan akan dijemput balek pukul 08.00 pm namun kami selesai lebih awal sekitar pukul 07.00 pm sudah selesai..  Hemat – hemat baru hari pertama..  Liat liat yang aneh aneh aja dulu.. Tujuan utama adalah membeli topi sebagai persiapan masuk kampung yang katanya panas..  Partner keliling pasar kali ini adalah Nisa..  Melihat-lihat apa yang bisa dilihat..  Pegawai nya rata – rata seperti anak gadis usia SMA.  Untuk mata uang disini adalah Usd hampir merasa khilaf… Hhaa..  Karena Usd kan hanya 1,2,3,8 usd namun kalau dipikir-pikir dan dihitung ke rupiah,  itu mahal sis… Hahaha..  Jadi lah ambil hp kemudian pakai calculator hitung dengan benar..  Harga disini pun pas-pas aja..  Kamu cuma menawar seperti 0.5 usd dan ternyata kembalian 0.5 itu dengan mata uang mereka sebesar 2000 real..   

Selesai makan malam,  balek ke homestay..  Mandi dengan seksama malam ini… Haha sebelum masuk kampung yang katanya bisa jadi mandi di sungai cokelat ataupun air di rumah gak ada..  Okay akan dilihat besok bersama team 2 juga akan datang di hari Jumat ini… 


Bendahara kami yang sibuk berbelanja paket alat tulis,  ditemani bg Arifin 


Kalajengking dan ular Cobra dalam wine bisa dijadikan oleh oleh untuk minuman atau pajangan..  Mau??  Haha

Mejuah Juah

Salam semua, Mejuah-juah

Kali ini saya ada misi untuk senyuman anak-anak pengungsi Sinabung. Tapi sayang kali ini saya tidak bisa bergabung padahal saya sudah rindu juga untuk kesana. Namun, karena suatu dan banyak hal dengan berat hati tidak bisa ikut untuk misi kali ini. So, sebagai pelepas sedikit rindu saya akan coba menulis kenangan semasa disana. Misi ini digagas oleh Road to Jannah (Malaysia) yang insha Allah akan bekerjasama dengan ACT Medan (Indonesia).

Gunung Sinabung terletak di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (perjalanan dari Medan sekitar 2-3 Jam). Namun, dari kota wisata Berastagi kita sudah bisa melihat viewnya. Gunung ini sebenarnya sudah lama tidak erupsi namun di bulan puasa 2010 gunung ini kembali erupsi setelah tidur panjangnya. Jika kesana, dahulunya seperti kita di ladang games Farm Ville banyak perkebunan kentang, wortel, jeruk Medan yang sebenarnya dari sana dan juga sayuran lainnya. Tidak lupa kebun bunga yang indah-indah bisa dijumpai disana. Dampak erupsi ini tentunya membuat masyarakat terpaksa harus mengungsi dan berlebaran di pengungsian.

September 2013, gunung Sinabung ini kembali aktif sehingga warga di area 3-5 km harus diungsikan di posko pengungsian. Saat pertama kali kesana dibuatlah posko pengungsian yang hanya 4 buah posko karena jumlah pengungsi memang tidak terlalu banyak sesuai dengan radius yang diungsikan. Posko di buat di masjid, gereja, jambur (balai pertemuan) dan pasar. Sepanjang 2013 aktifitas gunung naik turun terkadang erupsi terkadang mulai aman dan bisa kembali lagi ke rumah masing-masing walaupun untuk warga yang berjarak 3 km itu masih harus waspada. Begitu juga dengan tahun 2014 bahkan ada korban jiwa saat pengantar bantuan mencoba melintasi redzone dan tanpa disangka terjadi erupsi hebat. Sepanjang 2014 bahkan sekarang 2016 juga masih terus bergojak. Bahkan di tahun 2016 kembali memakan korban karena dampak dari lahar panas yang mengikuti aliran sungai.

Sangat miris sebenarnya kondisi disana, gak usahlah kita bahas pemerintahan dan politik bagi saya yang dhaif ini susah juga untuk menjelakannya. Bagi saya yang membuat sedih adalah kenapa Sang Gunung ini tidak berhenti-henti batuk. Cukup berbeda jika kita perhatikan dengan gunung api lainnya yang erupsi. Biasanya saat sudah terjadi erupsi besar, warga mengungsi untuk sekian waktu dan sesudah itu mereka bisa kembali kerumahnya untuk berbenah. Beda dengan Sinabung seolah-olah baru tersenyum sudah harus bersedih lagi. Semoga ada rahasia indah Allah sesudah ini. Begitu setiap hari tanpa tahu siapa yang bisa memastikan. Ilmu mana yang bisa menghentikannya. Tidak terkira berapa kerugian material berupa rumah, ladang, sekolah dan bangunan lainnya. Begitu juga secara psikologis pastinya… teringat dulu kata nandeh nande (nenek-nenek) disana, “dulu berfikir jika tidak pergi ke ladang rasa enak, tapi ternyata disini di posko tidak ada kerjaan tidak ada kegiatan tidak bisa ke ladang sungguh sangat tidak enak. Rasanya biarlah bisa pergi ke ladang dapat sedikit demi sedikit untuk aktifitas dibandingkan disini walaupun ada yang bantu”. Belum lagi anak-anak disana, hmm…. speechless. Yang dulu saya lihat, semoga hari ini lebih baik.. anak-anak yang baru lahir, anak SD mereka harus tinggal di posko pengungsian yang tidak semua memberikan kenyamanan. Jika pun nyaman tentu mereka akan lebih senang jika dapat tinggal di rumah mereka sendiri walaupun sederhana. Namun, secara psikologis anak-anak saat berhadapan dengan bencana memang menjadi dua kutub. Satu, mereka akan merasakan sedih yang mendalam sehingga menarik diri, sulit makan, sulit tidur, tidak mau bermain, prestasi menurun dan lainnya. Di lain sisi, mereka terlihat gembira bermain di pengungsian karena ramai, banyak teman dan kakak –kakak yang menghibur, tapi pertanyaannya sampai kapan? Tentunya hal ini tidak kekal, karena dunia mereka sebenarnya bukan disana. Hanya mampu mendoakan dari jauh.

Tentunya yang membuat semakin miris, saat banyak orang tidak tahu… jangankan  untuk dunia tahu… satu Indonesia saja tidak semua tahu, jangankan Indonesia, satu Sumatera pun masih gak tahu dimana letak Sinabung, Jangankan Sumatera satu Sumatera Utara pun terkadang lupa ada saudara saudara disana… Okay jangankan satu Sumatera Utara, Satu Medan pun kadang menyadari adanya bencana erupsi Sinabung dari tomat atau jeruk yang terkena abu saat belanja di pasar. Semoga dulu yang seperti itu, berharap sekarang jauh lebih baik. Karena memang tulisan ini lebih kepada 2-3 tahun yang lalu.

Mejuah-juah…. !!!

karena hidup harus tetap diperjuangkan, bersama-sama atau sendiri

Salam rindu dari kota Padang,

berharap kita dapat berjumpa lagi dengan segala kebaikan

 

 

Kisah berjalan

Jika ingin mengenali diri sendiri,  pergi lah berjalanlah seorang diri… 

Saat berjalan,  tenggok lah sekitar. Ntah mengapa,  hal-hal yang berbeda yang dirasa menarik. 

Tidak juga semakin jauh berjalan akan semakin mudah meninggalkan apa yang di belakang. Permainan hati susah juga untuk diramalkan.

Jauh dekat perjalanan hakekatnya bukan dalam satuan kilometer,  kita yang akan tentukan. 

Saat disudahi apa yang mau dibawa,  apa yang mau ditinggalkan kita yang akan pilih. 

Pilih lah… 

Akankah sia-sia? 

Namun, sejak kapankah suatu perjalanan itu akan sia-sia??